SECUIL HUTAN DI GUNUNG PERAHU YANG DULU SELALU MENYAPA " SELAMAT PAGI PAK TORO!"

SECUIL HUTAN DI GUNUNG PERAHU YANG DULU SELALU MENYAPA " SELAMAT PAGI PAK TORO!"
pemandangan indah yang kini tinggal kenangan, HUTAN PUNCAK GUNUNG PERAHU

Antara Pringsurat Tretep

Sekedar cerita rutinitas hidup saya dari bangun pagi sampai tidur lagi.
Minggu malam Senin, menjelang tidur malam aku siapkan uba rampe yang harus dibawa esok pagi. Tas punggung aku absen isinya. Laptop,charger,tempat pensil beserta isinya,beberapa stel seragam,dan seperangkat baju harian. Ada kantong plastik yang aku sebut "kantong ajaib" isinya hehe lombok,brambang bawang, gula merah bahkan kadang makanan kecil yang di rumah sudah tidak ada yang mau makan, seperti kerupuk mlempem buah apel yang agak penyok dll.
Dalam baju yang akan aku kenakan besok pagi sudah aku selipkan catatan apa-apa yang harus aku beli di perjalanan dan tentu saja dompet.
Pukul 04.00 alarm hanphone berbunyi. Walau mata masih lengket ingin terus tidur aku tetap harus bangun, mandi pagi,wudhu memanaskan sepeda (tapi tidak pakai kompor lho). Istriku juga sudah bangun dan bernyanyi keras-keras"Tangi-tangi-tangi" sambil menyeret selimut anak perempuanku yang mbarep. Ufi anak laki-laki kesayanganku sudah bangun lebih dahulu dibanding kakaknya yang usianya terpaut sepuluh tahun. Ufi lebih disiplin bangun pagi dibanding kakak perempuannya. Aku bukannya membela si Ana anak perempuanku yang paling aku sayangi itu, tapi dia saat ini dalam masa perubahan dari remaja ke dewasa. Badannya dulu kurus sekarang gemuk, gimana tidak gemuk wong pekerjaannya cuma tidur dan makan. Mungkin kata ahli ini yang disebut masa perubahan remaja ke dewasa. Masa mencari jati diri. Semoga seiring waktu yang berjalan sifat-sifatnya yang jelek berubah jadi baik.
Sarapan pagi sudah siap, nasi kemarin yang disimpan dalam magic jar, sayur yang juga kemarin hehe. 
Pukul 05.00 aku berangkat. jaket dobel, tas punggung, sepatu boot, kuping sumpeli headphone, menyanyikan lagu favoritku NKOTB new kids on the blok dan instrumental Rani. "Aku mangkat bune" pamitku pada ibunya anak-anak. "Yo pak Ngati-ati le tindak,alon-alon wae sing penting paringi slamet" jawab istriku sambil membukakan pintu dan aku dibekali senyuman manisnya. 
Jalanan masih sepi, lha jam segini siapa sih yang mau lewat! Haha dengan bangga aku jadi raja jalanan. Lampu lalulintas di perempatan Kranggan masih tidur alias sering masih berkedip kuning. Kesibukan luar biasa terjadi di sekitar pasar Kranggan. Pasar Kranggan adalah pasar tempat kulakan pedagang sayur eceran yang pakai mobil atau sepeda. Melewati tengah kota Temanggung, televisi Raksasa depan alun-alun sudah menayangkan iklan rokok. Iklan yang membuat aku geli sendiri, kok pinter temen sing gawe iklan itu. Lucu tapi penuh makna. Cerita tentang jin blangkon dan orang miskin yang lugu. Kata Jin:"Kuberi dua permintaan".Jawab si miskin "pingin sugih!" "CLING" uang bertebaran dimana-mana. "Pingin ganteng" pinta si miskin. Jin tertawa terbahak-bahak "NGIMPII" 
Tayangan itu menurut saya penuh arti dan pesan. Kita menganggap uang adalah segalanya.  Padahal uang hanya sebuah benda semu. Banyak sekali hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, seperti cinta sejati,kesetiaan dan kepuasan batin.
Sebenarnya iklan itu menyindir diri saya juga. Saat ini sebagian besar keinginan saya terkabulkan. Jadi pegawai negeri, jadi guru,bisa kuliah lagi, kerjanya ditempat yang teduh, bisa mengembangkan ilmu, dapat pensiun dan lain-lain.
Hanya satu lagi permintaan saya yang belum terkabul"pindah atau mutasi" itu saja. tapi seperti yang tayangkan di iklan itu, "NGIMPIII"
Hahaha, ngomong-ngomong aku sudah sampai di pertigaan Parakan ini! Kalau ingat pertigaan ini aku ingat masa kecil dulu, saat dulu ikut simbokku bepergian entah kemana. Kalau lihat pertigaan itu rasanya perjalanan sudah sangat jauh. Hehe memang sudah jauh kok! Pertigaan itu saat  ini terasa dekat karena hampir tiap hari aku lalui.
Di kota Parakan aku mulai tengak-tengok mencari warung atau toko yang sudah buka. Mau beli mie instan,kopi atau gula. Kalau aku beli dari rumah, menambah beban berat tas punggungku. Kalau beli di sekitar SD belum tentu ada, kalaupun ada harganya  selangit, maklumlah jauh dari pusat keramaian.
Di perbatasan kota Ngadirejo, kubelok kiri lewat "ring road" untuk menjauhi kepadatan lalulintas dan sedikit menyingkat jarak perjalanan. Lagu dalam hp berganti  irama dangdut koplo. Seiring senada dengan jalan yang aku lalui, banyak lubang, banyak jenggulan (polisi tidur) dan jalannya kelak kelok. komplet deh!
Tiba di pasar Batok Wonoboyo, mampir beli nasi megono, satu bungkus Rp1000,00 beli 4 sampai 5 bungkus. Itu kalau warungnya sudah buka! lha jam 6 pagi kan masih sepi. Megono cukup enak dan dijamin wareg (kalau makan 3 bungkus) haha.
Perjalanan masih 18 km lagi. Lagu berganti yang mellow, jalan aspal mulus tapi berkelok. persis orang dansa. Lokasi istirahat sejenak kesenanganku di puncak bukit Barisan. Dari tempat ini aku bisa melihat kota Parakan , Ngadirejo dan jalan-jalan yang tadi aku lalui. Oh Tuhan betapa jauhnya aku berjalan.
Bau kawah Dieng mulai tercium. Markas besarku sudah dekat. Sekolah Dasar Negeri Sarangan. Aku datang anak-anak!
Jam tujuh kurang sedikit, sampai SD langsung masukkan sepeda ke ruang UKS.  Bongkar tas, laptop, baju, bekal aku letakkan di almari dan sering ada kejutan di dalam kantong plastik ajaib. isinya lebih gemuk. Seringkali istriku memasukkan makanan tanpa aku ketahui. Tempe goreng, abon, kadang telur asin. Terima kasih istriku, selama ini kau begitu setia menemani sesosok mahluk renta ini.

Apel pagi bersama anak-anak. Dingin, hujan tak mengapa.