SECUIL HUTAN DI GUNUNG PERAHU YANG DULU SELALU MENYAPA " SELAMAT PAGI PAK TORO!"

SECUIL HUTAN DI GUNUNG PERAHU YANG DULU SELALU MENYAPA " SELAMAT PAGI PAK TORO!"
pemandangan indah yang kini tinggal kenangan, HUTAN PUNCAK GUNUNG PERAHU

MBAH LEGI MENINGGAL DUNIA


Seperti pernah aku ceritakan sebelumya, ada seorang nenek berumur 130 tahun lebih yang masih sehat. Pada hari sabtu tanggal 10 Januari 2009 ini meninggal karena saking tuanya. Dia sudah lama sakit atau mungkin bisa disebut uzur. Bagaimana tidak uzur lha wong dia sudah tidak bisa apa-apa tapi masih doyan makan. Sampai-sampai anak cucunya sering bilang " Mbah sampeyan ( kamu ) matinya kapan sih ? Mbah Legi cuma tersenyum lugu. Ya maklum dia sudah tuli dan ompong jadi senyumnya malah membuat takut anak kecil.
Bukan berarti anak cucu mbah Legi itu tidak sayang lagi sama neneknya tapi mungkin karena sudah begitu lelah merawatnya. Sampai salah seorang anaknya pergi ke mbah Tamping yang merupakan tokoh masyarakat di dusun Sarangan. Anak tertua dari mbah Legi itu menanyakan kapan saat matinya ibunda tercintanya itu. Mbah Tamping cuma jawab " ya cari saja kandi /karung terus mbokmu itu dimasukkan ke situ. Terus hanyutkan ke sungai. Saat itulah ibumu mati " Anak tertua mbah legi itu diam saja. " betul to mas guru , yu Legi biar bisa mati " aku yang memang sejak tadi bertamu ke rumah mbah Tamping ikut tersenyum geli. Segala sesuatu itu ada batasnya le ! Kalau kelak simbokmu memang sudah dipundut ya mesti mati to! Mati kok diarep-arep. Kalau masanya mati ya mati.
Aku mendengar semua itu jadi tersadar akan dua hal. Yang pertama aku ingat nasehat almarhum bapakku " segala sesuatu itu jangan EN kewaregen kepinteren dan lain lain atau jangan berlebihan. Seperti umur yang berlebihan mbah Legi. Yang kedua soal segala sesuatu pasti ada masanya ada saatnya.
Seperti aku sering merenung kapan ya aku bisa pindah mengajar ke tempat yang lebih dekat? . Yah aku sekarang cuma pasrah kalau memang masanya pindah ya bisa pindah. SELAMAT JALAN MBAH ! DOAKU MENYERTAIMU